SEKILAS INFO
  • 9 bulan yang lalu / Website ini masih dalam tahap pengembangan semua data yang ditampilkan belum valid
WAKTU :

Tadabbur

Terbit 16 September 2020 | Oleh : admin | Kategori :

 

Kejar Akhirat Jangan Lupa Dunia
(Tadabbur QS. Al-Qashash ayat 77)
Oleh : Samsul Basri, S.Si, M.E.I

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
_Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan._

Ibnu Katsir rah.a dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud ayat di atas yaitu hendaknya setiap insan berupaya maksimal memberdayakan dan menggunakan segala apa yang telah Allah karuniakan padanya berupa harta dan berbagai potensi kenikmatan lainnya untuk ketaatan kepada Allah dan taqarrub kepada-Nya. Perbuatan yang demikian itu akan mendatangkan balasan kebaikan di negeri akhirat. Dan hendaklah manusia tidak mengabaikan apalagi meninggalkan sesuatu yang dibolehkan baginya di dunia seperti makan, minum, menikah, membeli pakaian, membuat tempat tinggal, dlsb.

Intinya setiap insan berkewajiban memperhatikan dan memenuhi hak bagi setiap yang mempunyai hak. Allah punya hak, diri sendiri juga punya hak, keluarga punya hak, tetangga juga demikian, maka tunaikah hak setiap yang mempunyai hak. Dan hendaknya ia berbuat baik kepada makhluk Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik pada-Nya. Tidak berkeinginan melakukan kerusakan di bumi yang berpotensi merusak atau menyakiti makhluk Allah. Sungguh Allah tidak suka kepada siapa yang melakukan kerusakan.

*Pelajaran dan Hikmah :*

*Pelajaran pertama,* tujuan diciptakan manusia untuk ketaatan kepada Allah. Dan karena itulah manusia harus merealisasikan tujuan ini dengan memberdayakan segala potensi yang ada padanya berupa umur, ilmu, kesehatan, kesempatan, harta, dan beragam fasilitas dunia yang ada padanya untuk ketaatan kepada Allah. Ia yang Maha pencipta, sang pemilik kehidupan berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariat : 56)

Para ulama mendefenisikan bahwa ibadah itu sebutan untuk segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, meliputi ucapan dan perbuatan, yang nampak atau yang tidak nampak. Sehingga setiap hari sejak bangun tidur sampai tidur kembali manusia berpotensi untuk ibadah kepada Allah. Karena itulah manusia dengan segala potensi yang ada padanya berusaha maksimal menjadikan niatnya, ucapan dan perbuatannya terhitung ibadah di sisi Allah.

*Pelajaran Kedua,* ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah yang amat besar kepada hamba-Nya. Ia yang Maha tahu bahwa dunia ini singkat dan sementara sedangkan akhirat kekal selamanya memerintahkan agar manusia memperhatikan bekal yang mendatangkan kebahagiaannya di akhirat berupa iman dan takwa kemudian bersegera melakukannya dengan segala potensi. Dan meskipun perpisahan manusia dengan dunia pasti terjadi, namun selagi hidup, manusia tidak boleh mengabaikan apalagi meninggalkan sesuatu yang membuatnya bahagia, tenang dan sejahtera di dunia. Ini menjadi konsep penting dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu menunaikan hak kepada setiap yang mempunyai hak. Allah punya hak untuk diibadahi maka manusia mengupayakan hidupnya 24 jam bernilai ibadah, diri sendiri punya hak untuk diperhatikan kesehatannya secara fisik misalnya dengan tidak merokok, tidak narkoba, tidak minum khamar, berzina, tabdzir, bergaul dengan orang salah dlsb. Keluarga punya hak untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka, masyarkat dan tetangga juga punya hak untuk diperhatikan, dlsb. Intinya penuhilah hak bagi yang punya hak.

*Pelajaran ketiga,* hendaklah manusia berbuat baik kepada makhluk Allah sebagaimana Allah berbuat baik padanya. Tidak berkeinginan apalagi sampai melakukan sesuatu yang bisa merugikan makhluk Allah. Misalnya membuang sampah sembarang tempat, merokok di tempat umum, melakukan penipuan dan kecurangan dalam transksi ekonomi, melakukan pencurian, pemerkosaan, pembunuhan dan perbuatan kriminalitas lainnya. Dan perlu dipahami bahwa sebesar-besar kerusakan yang dilakukan manusia di dunia yang menyebabkan kerusakan alam, lingkungan dan masyarakat adalah menjadi pribadi yang tidak bertakwa kepada Allah.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menjadi generasi yang beriman dan bertakwa. Menjadi generasi yang senantiasa mendengarkan ayat-ayat Allah, merenungkannya dan mengambil pelajaran darinya.

SebelumnyaMorbi Fringilla Quam Jimpedit Gaut Momnis Eccaecati

Tausiyah Lainnya